Sunday, September 05, 2010

FSLDKN XV 1 – 5 Juli 2010, Ambon “Sinergisitas Kebhinekaan dalam Multikulturalisme, Mewujudkan Indonesia Madani”

Indonesia, sebuah negara bergelar zamrud khatulistiwa dengan segala kekayaan alamnya serta kondisi geografis yang berbeda-beda di sepanjang wilayahnya menjadi tanah air bagi berbagai penduduk yang memiliki karakeristik dan budaya yang demikian unik dan mempesona. Beraneka ragam suku bangsa, etnis, agama, bahasa dan budaya yang berbeda tidak lantas menjadikan negara ini terpecah belah, namun semakin memperkuat jati diri bangsa yang beradab dalam tatanan Bhinneka Tunggal Ika. Dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang sudah menghujam kuat dalam diri setiap penduduknya, menjadikan bangsa ini bangsa yang kuat, mengantarkannya menjadi bagian penting dari masyarakat dunia.

 

Secara konstitusional negara Indonesia dibangun untuk mewujudkan dan mengembangkan bangsa yang religius, humanis, bersatu dalam kebhinnekaan. Demokratis dan berkeadilan sosial, belum sepenuhnya tercapai. Konsekuensinya ialah keharusan melanjutkan proses membentuk kehidupan sosial budaya yang maju dan kreatif. Dengan demikian kita melihat bahwa semboyan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kokoh, beranekaragam budaya, etnik, suku, ras dan agama, yang kesemuanya itu akan menjadikan Indonesia menjadi sebuah bangsa yang mampu mengakomodasi kemajemukkan itu menjadi suatu yang tangguh. Sehingga ancaman disintegrasi dan perpecahan bangsa dapat dihindari.  Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, paradigma hubungan dialogal atau pemahaman timbal balik sangat dibutuhkan, untuk mengatasi ekses-ekses negatif dari suatu problem disintegrasi bangsa. Paradigma hubungan timbal balik dalam masyarakat multikultural mensyaratkan tiga kompetensi normatif, yaitu kompetensi kebudayaan, kemasyarakatan dan kepribadian

Akhir-akhir ini, intensitas dan ekstensitas konflik sosial di tengah-tengah masyarakat terasa kian meningkat. Terutama konflik sosial yang bersifat horisontal, yakni konflik yang berkembang di antara anggota masyarakat, meskipun tidak menutup kemungkinan timbulnya konflik berdimensi vertikal, yakni antara masyarakat dan negara.

Masalah sosial menurut Soerjono Soekanto adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat. Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi empat faktor, yakni antara lain faktor ekonomi meliputi kemiskinan dan pengangguran, faktor budaya meliputi perceraian dan kenakalan remaja, faktor biologis meliputi penyakit menular, keracunan makanan, dan faktor psikologis meliputi penyakit syaraf, aliran sesat, dan lain sebagainya. Ke empat kategori tersebut tentu saja saling berkaitan. Dapat berdiri sendiri, dapat membentuk hubungan sebab-akibat, atau terjadi sejajar.

Salah satu penyebab utama timbulnya masalah sosial adalah pemenuhan akan kebutuhan hidup. Artinya jika seorang anggota masyarakat gagal memenuhi kebutuhan hidupnya maka ia akan cenderung melakukan tindak kejahatan dan kekerasan. Dan jika hal ini berlangsung lebih masif maka akan menyebabkan dampak yang sangat merusak seperti kerusuhan sosial.

FSLDK sebagai satu-satunya forum legal formal yang memiliki jaringan terluas di seluruh kampus di Indonesia ingin memberikan kontribusi dalam transfer nilai yang ada di masyarakat. Salah satu masalah sosial yang kemudian menjadi fokus utama dari FSLDK saat ini adalah moralitas. Ekspansifnya nilai-nilai barat yang berkembang di Indonesia bisa jadi merupakan cikal bakal terjadinya berbagai kasus pelanggaran moral terutama di kalangan remaja yang seharusnya menjadi agent of change. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat masih belum ada sistem yang mengatur tentang nilai-nilai ketuhanan kepada generasi muda Indonesia. Selain itu masalah ekonomi, kemiskinan, yang kemudian dijadikan sebagai ujung permasalahan sosial di dalam masyarakat menyebabkan jurang pemisah antara yang kaya dan miskin semakin lebar.

Berdasarkan survey Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah masyarakat miskin pada tahun 2001 di negara ini sebesar 17,5 % atau berkisar 34,6 juta jiwa, sedangkan berdasarkan angka Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada tahun 2001, presentase keluarga miskin (Prasejahtera dan Sejahtera I) mencapai 52,07 %, lebih dari separuh jumlah keluarga di Indonesia pada tahun yang sama. Dalam hitungan lain, hasil SUSENAS mengantongi angka 98 juta jiwa (48%) penduduk miskin Indonesia. Dengan memakai angka apapun, akan tetap banyak masyarakat kita yang berada pada level “miskin”. Dan yang paling menyedihkan adalah tingkat Human Development Index (HDI) nasional Indonesia pada tahun 2003 yang jauh tertinggal dari banyak negara berkembang; negara-negara yang dulu banyak belajar dan dibantu oleh kita. Kita harus puas dengan rangking 117 dari 175 negara, juru kunci di ASEAN. Resonansi kemiskinan muncul dengan kemasan dan wajah baru yang lebih menyeramkan.

Proses sosial dan bencana di Indonesia telah berulang kali terjadi bencana banjir, longsor, banjir pasang naik, gempa, tsunami, bahkan beberapa saat lalu telah terjadi musibah jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang, Banten akibat tidak kuat menahan tekanan air hujan yang tertampung. Menurut laporan Walhi, antara tahun 2006-2008, di Indonesia sedikitnya telah terjadi 840 peristiwa bencana alam. Sedang periode sebelumnya, antara 1998 hingga 2003 tercatat sebanyak 647 bencana. Data bencana dari Bakornas Penanggulangan Bencana antara tahun 2003-2005 tercatat terjadi 1.429 bencana. Artinya, antara 1998 hingga 2008 terdapat indikasi peningkatan peristiwa bencana.

Dalam cita-cita kita, Indonesia baru adalah Indonesia yang bermoral tinggi, bangsa yang hidup dalam kesantunan. Indonesia yang kita rindukan adalah bangsa yang disegani dan menjadi rahmat bagi umat manusia. Untuk mewujudkan Indonesia dengan nilai yang baru tersebut diperlukan adanya proses transformasi struktural dan kultural dengan menyegarkan kembali paradigma kehidupan berbangsa dan bernegara yang mengedepankan moralitas dan penegakan hukum serta kemandirian berekonomi, di samping upaya yang sungguh-sungguh untuk membangun titik temu, kebersamaan, persatuan dan sinergi di antara berbagai komponen bangsa, merupakan syarat yang tidak dapat ditawar.

Melalui Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional ke XV Unpatti Ambon, daerah yang telah merepresentasikan berbagai masalah sosial yang terjadi inilah diharapkan dapat menjadi jembatan komunikasi antara mahasiswa dan elemen-elemen pendukung yang ada di masyarakat dan menyadarkan kembali peran bersama dalam membangun bangsa Indonesia yang dulu pernah Rosulullah bangun di antara keberagaman masyarakat Madinah. Selanjutnya dapat dihasilkan ide dan tindakan nyata yang berkesinambungan dalam mereduksi masalah sosial yang telah dipaparkan. Dan akhirnya disadari bahwa penyembuhan parsial tidak mungkin dilakukan karena masyarakat merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan permasalahan bersifat menyeluruh. Jalan keluar dari semua adalah sebuah keadilan yang masih berpegang pada keanekaragaman budaya yang sejati. Perjalanan Menyambut Multikulturalisme di Indonesia.

Kerangka Konseptual yang menjadi pondasi adalah :

1. Kebhinekaan dan Multikulturalisme dalam Al Qur’an :

Tidak berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendakNya. Dan Allah selalu memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki  kepada jalan yang lurus,” (QS Al Baqarah: 213)

2. Momentum kemenangan dalam perbedaan

….. Untuk tiap-tiap manusia diantara kamu, Kami berikan jalan dan pedoman hidup. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikannya satu umat saja. Tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semua, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”

3. Mengoptimalkan peran agama sebagai faktor integrasi dan pemersatu.

Pertama, Al Qur’an menyatakan bahwa; dulu manusia adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi, sebagi pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberikan keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. AlQur’an menegaskan konsep kemanusiaaan universal Islam yang mengajarkan bahwa umat manusia pada mulamya adalah satu. Perselisihan terjadi disebabkan oleh timbulnya berbagai vested interest masing-masing kelompok manusia. Yang masing-masing mereka mengadakan penafsiran yang berbeda tentang suatu hakekat kebenaran menurut vested interest nya.

Kedua, meskipun asal mereka adalah satu, pola hidupnya menganut hukum tentang kemajemukan, antara lain karena Allah menetapkan jalan dan pedoman hidup yang berbeda-beda untuk berbagai golongan manusia. Perbedaan itu seharusnya tidak menjadi sebab perselisiahan dan permusuhan, melainkan pangkal tolak bagi perlombaan untuk melakukan berbagai kebaikan. Al Qur’an menyebutkan :sebuah kesatuan budaya (Unikultural). Yang seharusnya tidak berarti kemajemukan harus dipaksakan unutk menjadi satu, akan tetapi perbedaan itu haruslah menjadi kekuatan yang kompleks untuk bersatu dan berjalan bersama, tanpa adanya konflik.

Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional XV pada periode 2007-2010 bertujuan untuk visi yang kokoh, peta jalan / ”road map” yang benar bagi para pengemban amanah di lembaga dakwah kampus agar mereka siap mengikuti proses sinergisme kebhinekaan dan multikulturalisme dalam mewujudkan Indonesia madani. Dan Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional XV bagi 600 lembaga dakwah kampus yang berhasil dibentuk dan diakselerasi pada periode ini menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, kompetensi dan sinergi untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.

 

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Polling

Apakah rokok perlu diharamkan?


Head Line

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday449
mod_vvisit_counterYesterday501
mod_vvisit_counterThis week449
mod_vvisit_counterLast week4030
mod_vvisit_counterThis month3110
mod_vvisit_counterLast month18720
mod_vvisit_counterAll days112083

Who's Online

We have 4 guests online